ES Weather

Wednesday, October 21, 2009

Puisi Buat Mama (Mengenang kembali kehidupan di Kota London - Puisi ini ditulis 22 tahun yang lalu)








mama, pagi ini mentari menciumi dahiku, bagaikan
kejutan elektrik, darahku terbangun dari lena tidur
menghirup wangi bebunga, yang musimnya
sedang menghujung, dalam kerasnya bayu dingin
mama, kota asing ini banyak mencabar keimanan
yang adakalanya waktu-waktu begini, aku gagal
menjadi anak watan yang berdiri kukuh, kekadang
aku mampu melakukan apa saja dan kekadang pula
aku hanya membiarkan segalanya begitu saja

mama, disini hari-hariku menatap mata-mata hijau
biru, kelabu, coklat dan selainnya, dan hari-hari jua
kulihat rerambut yang berbagai warnanya, dan kota
ini mama penghuninya masih saja bernama
manusia, seperti kotaku yang sekian lamanya aku
tinggalkan
tapi
ada kekurangan dikecukupan ini
ada kepincangan dikesempurnaan ini
ada sesuatu yang tidak kutemui di sini

kota ini tidak pernah sunyi mama, dari nyanyian
lelagu yang melenakan, yang malamnya bermula
tatkala jam didinding telah lesu berpusing, terlalu
banyak kelainannya mama, sejauh jarak yang
memisahkan kita,
betapa daerahku ini tidak lagi
kudengar akan merdunya suara azan bila subuh menjelma
tiada lagi lunaknya suara bilal bila iqamah
dibaca, tiada lagi itu semua mama bagai dulu
di kampung kita

dan
kadang-kadang betapa ngerinya mama bila
mengingatkan
sebahagian dari hari-hariku disini berada
di dalam bumi (underground tube)
sedangkan aku masih belum mati



Soleil
Oct 1987

No comments: